PANTASKAH SAYA MENGELUH?
Di sebuah siang yang panas, di perempatan lampu merah, seketika saya memalingkan wajah. Menahan air mata, melihat seorang bapak berlengan satu, berjualan tisyu, lusuh, berkeringat. Sungguh pemandangan biasa saja, namun hati ini sedang teramat risau.
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 September 2014
Kamis, 11 Juli 2013
AIR MATA AWAN
Sebelum awan menangis, mana mungkin taman bisa tersenyum.
Sampai bayi menangis, mana mungkin air susu mulai mengalir.
Bayi satu tahun saja sudah tahu, “Aku akan menangis, supaya perawat yang baik datang”
Tidakkah engkau tahu, bahwa sang perawat dari segala perawat
Tidak akan memberikan susu dengan gratis, tanpa tangisan… (Jalaludin Rumi)
Di tengah malam, sang raksasa terdesak untuk buang hajat. Perutnya sakit. Ia bermaksud keluar, tapi menemukan pintu terkunci. Dengan berbagai cara, ia berusaha membuka pintu. Setelah berulang-ulang gagal, ia merayap ke tempat tidurnya. Pada waktu itu, "desakan alam" tidak dapat ditahan lagi. Ia mengeluarkan kotoran di rumah. Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya: malu, terhina, bingung, takut. Sepanjang sisa malam itu, ia memasang kupingnya, berharap mendengar pintu dibuka seseorang. Menjelang subuh, ia mendengar pintu terbuka. Ia segera meloncat ke luar. Ia ingin melarikan diri dari semua derita dan rasa malunya. Ia tidak tahu bahwa yang membuka pintu itu adalah Nabi al-Musthafa. Setelah membuka pintu, Nabi Muhammad SAWsengaja menyembunyikan dirinya, agar orang itu tidak malu dengan apa yang dilakukan di rumahnya.
Di pagi hari, seorang sahabat mengantarkan tikar yang pernah ditiduri orang kafir itu. "Lihat, ya Rasul Allah, apa yang telah diperbuat tamu itu." Nabi SAW mengambil tikar itu sambil tersenyum dengan senyuman rahmatan lil'alamin. "Ambilkan air. Biar kotoran ini aku bersihkan," ujar Nabi. Para sahabat meloncat, "Demi Allah, jangan. Biarlah tubuh dan jiwa kami menjadi tebusanmu, ya Rasul Allah. Wahai yang disapa Tuhan dengan La-Amruk (Al-Qur'an 15: 72). Kami sepatutnya berkhidmat kepadamu. Kalau engkau yang melakukan perkhidmatan, apa jadinya kami."
"Saya tahu," ujar Nabi. "Tapi ini peristiwa luar biasa. Aku punya alasan mengapa aku harus melakukannya." Beberapa saat kemudian, orang kafir itu sadar bahwa ia kehilangan azimatnya. Ia menduga azimat itu tertinggal di rumah Nabi. Meski rasa malunya besar, ketakutan kehilangan barang berharganya lebih besar lagi. Dengan jantung bergetar, ia menelusuri jalan kembali. Dan di situ, ia menyaksikan pemandangan yang meluluhlantakkan hatinya:
Tangan sang kekasih Tuhan terlihat sedang membersihkan kotoran yang dibuangnya. Ia menjerit pilu. Ia memukul kepalanya sambil berkata,
"Duhai kepala yang tidak punya pengertian." Ia memukul dadanya dan berkata,
"Duhai dada yang tidak memperoleh cahaya."
Ia mengangkat kepalanya ke langit, tapi mengalamatkan ucapannya kepada Nabi, "Wahai, yang karenanya diciptakan seluruh alam semesta. Engkau begitu rendah hati mematuhi perintah Tuhan. Aku tidak punya muka lagi untuk melihatmu, duhai kekasih Tuhan!"
Tak henti-hentinya ia meraung, menjerit, dan gemetar. Tangan agung yang tadi membersihkan kotoran itu menepuk-nepuk tubuhnya, menenteramkan hatinya, dan membukakan matanya.
******************************************
Ada banyak derita yang kita alami dalam kehidupan ini. Banyak keterpaksaan yang merenggut ingin kita. Ada derita yang menghempaskan kita ke kerak bumi, namun ada juga yang membawa kita ke langit. Kebanyakan kita tenggelam dalam kondisi yang pertama. Kita kesal pada teman kita, kita jengkel pada sahabat kita, benci pada keadaan.
Derita seperti ini tak akan pernah memberikan waktu istirahat pada jiwa kita. Kita disibukkan untuk terus–menerus mengatasinya, tenaga kita terkuras habis. Tubuh kita penuh peluh, pakaian kita kotor, tapi tak punya waktu untuk membersihkan diri. Kita menjadi budak – budak tak berdaya dari keinginan – keinginan kita.
Perut kita menjadi tong besar, yang melahap habis makanan untuk belasan orang. seperti raksasa dalam cerita Rumi, tak menemui jalan untuk keluar dari penderitaan itu. kita berharap ada tangan Rasulullah yang membukakan jalan, melapangkan kesempitan hati.
Setelah mengambil jalan keluar yang dibukakan Nabi, kita akan segera diantarkan pada penderitaan kedua. penderitaan karena perpisahan. Kita harus bisa melepaskan kehidupan kita yang lama. Buanglah keinginan agar semuanya terjadi seperti kita kehendaki.
Kita harus membenturkan kepala kita yang tak punya pengertian, kita harus memukul-mukul dada kita yang tak punya kesadaran. Tetapi, derita kali ini akan mengantarkan kita dalam pelukan kasih Ilahi, sayangnya ALLOH.Dalam derita, ini kita akan merasakan kebahagiaan. Seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya. Kita akan merasakan sakit tapi juga kebahagiaan karena melahirkan kehidupan yang baru. Inilah tangisan awan yang membuat taman-taman tersenyum, inilah tangisan bayi yag mengundang air susu ibu.
Maka sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan,
dan sesungguhnya bersama kepedihan itu ada kebahagiaan(QS. 94 :5-6)
Wallahualam bissawab.
Taken from: Reformasi Sufistik-nya Kang Jalal
Kamis, 01 Maret 2012
Sukses adalah Kewajiban
Mendengarkan Bang Jay di acara radio The Power of Life>>
“Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pembukaan .. bla..bla..bla. Bahwa kemerdekaan adalah hak suatu bangsa. Itu keliru! Yang benar: Kemerdekaan adalah kewajiban suatu bangsa!”
Wah keterlaluan sekali ini Bang Jay, berani-beraninya
menyalahkan UUD 1945. Tapi coba saya dengarkan kelanjutannya.
Pantas saja selama ini hanya menuntut, karena di
undang-undangnya sudah keliru! Sebuah film karya John Wilker (entah
diproduksinya tahun berapa) menceritakan bahwa di Inggris ada sebuah celana
berlabel made in Indonesia, dijual Rp110.000 per potong, sedangkan buruh yang
membuatnya hanya dibayar Rp500 per potong. Produk lain, sebuah sepatu terkenal,
dijual Rp1,4 juta, sedangkan buruhnya hanya dibayar Rp5.000 per sepatu. Apalagi
jika membandingkan upah buruh dengan biaya iklan sepatu tersebut oleh Tiger
woods..ah sudahlah..miris sekali.
Singapura, salah satu negara eksportir ikan hias terbesar di
dunia. Tapi apakah Anda tahu? Ikannya berasal dari Indonesia. Orang Indonesia
hanya diberi upah untuk mengambil ikan-ikan tersebut.
Bekerja pada orang lain, menuntut hak pada orang lain. Itu
yang banyak dilakukan di negeri ini. Mungkin karena lebih mudah. Mungkin juga
sudah terplot pada saat dijajah dulu, VOC anggotanya 80% orang Indonesia.
Tetapi dibuatlah perpecahan, orang sumatera menyerang orang Jawa, orang Jawa
menyerang orang Kalimantan. Setiap orang hanya setia pada yang membayar.
Setiap orang pasti ingin sukses, tapi coba bandingkan pola
pikirnya..
Sukses itu merupakan hak saya!
Saya sudah sekolah dari kecil, saya berhak untuk sukses.
Saya harus tuntut, harus melibatkan orang lain. Kalo saya kerja lalu tidak
sukses, berarti saya harus tuntut perusahaan karena membuat saya tidak sukses.
Coba ganti kalimatnya.
Sukses adalah kewajiban saya!
Kewajiban yang harus saya tunaikan dengan cara apapun.
Kalau saya kerja lalu tidak sukses, berarti saya belum
melakukan cara-cara agar bisa sukses. Maka dapat dipastikan diri kitalah yang
harus berubah agar kesuksesan tercapai, bukan menuntut orang lain untuk membuat
kita sukses.
Parameter kesuksesan sendiri pasti berbeda untuk setiap
orang dan setiap masa. Misalnya pada masa muda, kita merasa sukses jika
memiliki banyak uang. Ada juga orang yang merasa sukses apabila bisa bermanfaat
bagi orang lain. Karena kualitas ukuran manusia adalah manfaat (seperti halnya kualitas
ukuran emas= karat, kualitas ukuran bensin=oktan). Tapi masih sedikit orang
yang sejak masih muda memiliki ukuran sukses jika bermanfaat bagi orang lain. Kebanyakan
dari kita mengukur sukses dari harta duniawi yang kasat mata saja.
So…menjadikan sukses adalah hak atau kewajiban, itu
terserah masing-masing orang.
Wallahu’alam bishowab…
Jumat, 04 November 2011
Proposal Hidup
Mengutip kata-kata Pak Jamil Azzaini: "Tindakanmu berteriak keras sekali sehingga saya tidak bisa mendengar kata-katamu" maknanya tindakan Anda sehari-hari adalah cerminan diri Anda, kata-kata yang manis, proposal hidup yang terencana tak ada artinya karena diri Anda yang sesungguhnya adalah tindakan Anda bukan kata-kata.
"Orang akan melihat apa yang Anda kerjakan bukan apa yang Anda katakan"
Langganan:
Postingan (Atom)


